TVRINews, Medan
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengajak Universitas Sumatera Utara (USU) menjadi pusat lahirnya inovator pertanian yang mampu melanjutkan estafet swasembada pangan nasional.
Menurutnya, masa depan pertanian Indonesia tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah, tetapi juga pada inovasi, riset, dan pemanfaatan teknologi yang dikembangkan generasi muda.
Dalam kuliah umum di USU, Mentan Amran menegaskan bahwa peran mahasiswa dan akademisi sangat penting dalam menciptakan lompatan inovasi di sektor pertanian.
"Menteri itu hanya sementara, selesai jabatan selesai. Yang melanjutkan perjuangan ini adalah anak-anak muda. Karena itu kampus harus melahirkan penemuan-penemuan baru. Kalau ingin Indonesia semakin maju, harus ada new invention, harus ada lompatan inovasi," ujar Amran, dikutip Jumat, 17 Juli 2026.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis sebagai pusat penghasil sumber daya manusia unggul sekaligus inovasi yang dapat diterapkan untuk memperkuat sektor pertanian nasional. Karena itu, ia menilai sinergi antara kampus, pemerintah sebagai regulator, dan dunia usaha sebagai pelaksana pembangunan menjadi kunci percepatan transformasi pertanian.
"Kampus adalah sumber dari sumber terbaik. Pemerintah regulator, pengusaha eksekutor. Kami mencoba tiga sektor ini berjalan bersamaan karena tidak mungkin membangun pertanian hanya dari satu sisi," ucapnya.
Kemudian, Amran juga mendorong dosen dan mahasiswa untuk aktif melakukan riset, pengembangan teknologi, hingga hilirisasi komoditas pertanian. Ia menegaskan pemerintah siap menjalin kerja sama apabila hasil penelitian mampu memperkuat ketahanan pangan nasional.
"Harus ikut serta dosen dan mahasiswa meneliti hilirisasi. Kalau ada penelitian kedelai atau komoditas lain yang bisa memperkuat pangan nasional, langsung kita kerja sama," tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Mentan Amran memaparkan transformasi pertanian yang tengah dijalankan pemerintah. Ia menyebut peningkatan produksi pangan hingga Indonesia mampu menghentikan impor beras merupakan hasil penerapan berbagai inovasi, mulai dari intensifikasi, ekstensifikasi, rehabilitasi irigasi, pompanisasi, mekanisasi, hingga penggunaan teknologi modern seperti drone.
"Sekarang tanam sudah menggunakan mekanisasi bahkan drone. Kalau dulu satu orang menanam butuh 25 hari, sekarang satu orang bisa mengerjakan 25 hektare dalam sehari. Produksinya juga bisa mencapai 11 ton per hektare. Indonesia akan menuju ke sana, dan nanti kalian yang melanjutkan," jelasnya.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan sektor pertanian di Sumatera Utara, pemerintah telah menyalurkan bantuan untuk sektor perkebunan senilai sekitar Rp131 miliar. Selain itu, bantuan untuk sektor pertanian mencapai sekitar Rp953 miliar atau hampir Rp1 triliun.
Di hadapan mahasiswa, Amran juga berpesan agar generasi muda tidak takut menghadapi kritik maupun tekanan apabila ingin menjadi pemimpin dan inovator.
"Kalau mau berhasil jangan antikritik. Kalau mau berhasil, harus siap dihina dan menghadapi tekanan yang tinggi," pesannya.
Menutup kuliah umum tersebut, Mentan Amran mengajak seluruh civitas akademika USU mengambil peran aktif dalam membangun pertanian Indonesia sebagai wujud pengabdian kepada bangsa.
"Pesan Presiden Prabowo kepada kami sederhana, bantu Merah Putih, bantu republik yang kita cintai. Kami siap mewakafkan diri untuk Merah Putih. Selanjutnya, tongkat estafet ini ada di tangan generasi muda," pungkasnya.










