TVRINews, Medan
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk bersama-sama memerangi mafia pangan yang dinilai masih menjadi penghambat terwujudnya sistem pangan nasional yang sehat dan berpihak kepada masyarakat.
Ajakan tersebut disampaikan Amran saat memberikan kuliah umum bertema "Inovasi dan Kolaborasi Generasi Muda Menuju Swasembada Pangan" di Universitas Sumatera Utara (USU). Kuliah umum sempat diwarnai interupsi dari sejumlah mahasiswa yang menyampaikan kritik terhadap berbagai persoalan sektor pertanian.
Alih-alih menolak interupsi, Mentan Amran justru membuka ruang dialog terbuka. Ia mempersilakan mahasiswa menyampaikan kritik dan pertanyaan secara langsung, seraya menegaskan bahwa kampus merupakan ruang yang tepat untuk menguji kebijakan pemerintah melalui diskusi berbasis data.
"Memang tugas mahasiswa mengkritik. Yang penting konstruktif. Kita harus mendengarkan aspirasi. Tetapi mari kita berdiskusi dengan data supaya informasi yang disampaikan kepada publik benar dan bisa dipertanggungjawabkan," ujar Amran, dikutip Jumat, 17 Juli 2026.
Dalam dialog tersebut, mahasiswa FISIP USU, Andreas, mempertanyakan masih tingginya harga pangan di tengah klaim peningkatan produksi pertanian nasional. Ia juga menyoroti persoalan impor sejumlah komoditas, distribusi pangan, regenerasi petani, hingga degradasi lahan pertanian.
Menanggapi hal tersebut, Amran menjelaskan pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang masih dihadapi sektor pertanian. Ia mengakui komoditas seperti bawang putih masih bergantung pada impor, namun secara umum Indonesia telah mengalami peningkatan kemandirian pangan.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), Amran menyebut Nilai Tukar Petani (NTP) saat ini mencapai 127,73 atau menjadi yang tertinggi dalam 34 tahun terakhir. Selain itu, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian mencapai 5,74 persen, tertinggi dalam sekitar 25 tahun terakhir.
Ia juga menyampaikan bahwa sebagian besar dari sebelas komoditas pangan strategis nasional kini telah mampu dipenuhi dari produksi dalam negeri, bahkan beberapa di antaranya telah menjadi komoditas ekspor.
Terkait masih mahalnya harga pangan di tingkat konsumen, Amran menilai persoalan tersebut lebih banyak disebabkan oleh praktik mafia dalam rantai distribusi.
"Kalau produksinya banyak tetapi harga tetap tinggi, berarti ada persoalan dalam tata niaga. Mafianya harus kita berantas bersama. Siapa pun yang bermain kami tindak. Sudah puluhan tersangka kami proses, ribuan pelanggaran distribusi pupuk kami cabut izinnya. Kalau ada mafia, kita lawan bersama," tegasnya.
Menurut Amran, mahasiswa memiliki peran strategis dalam mengawal pembangunan pertanian melalui kritik yang objektif dan berbasis fakta. Ia menegaskan pemerintah tidak anti terhadap kritik selama bertujuan memperbaiki kebijakan.
"Kalau kritik itu untuk memperbaiki bangsa, berarti kita sejalan. Kritik seperti ini penting, tetapi mari kita sama-sama menggunakan data agar solusi yang dibangun benar-benar tepat," ucapnya.
Dialog berlangsung hangat dengan pembahasan berbagai isu lain, mulai dari bantuan alat dan mesin pertanian, pemerataan pembangunan hingga dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian.
Menutup kuliah umum, Mentan Amran kembali menegaskan komitmen pemerintah untuk terus membuka ruang dialog dengan masyarakat, termasuk kalangan akademisi.
"Kita tidak sempurna. Kritik itu menyempurnakan pembangunan. Yang penting, mari kita berdiskusi dengan data dan niat yang sama, yaitu memajukan bangsa dan menyejahterakan rakyat," pungkasnya.










