TVRINews, Sumut
Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memfokuskan penanganan terhadap kondisi psikologis pelajar yang menjadi korban dugaan keracunan makanan dalam program Makanan Bergizi Gratis atau MBG di Kabupaten Karo.
Langkah tersebut dilakukan setelah sejumlah pelajar kembali mengalami keluhan fisik yang diduga dipicu trauma pascakejadian keracunan.
Sebelumnya, sebanyak 353 pelajar dilaporkan mengalami keracunan makanan pada 13 Agustus 2026. Beberapa waktu kemudian, sejumlah pelajar kembali menjalani perawatan setelah mengalami sakit perut, kejang hingga pingsan.
Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution mengatakan, pemeriksaan lanjutan menunjukkan sebagian korban tidak hanya mengalami gangguan fisik, tetapi juga trauma psikologis.
Menurut Bobby, trauma tersebut dapat muncul kembali pada kondisi tertentu dan kemudian memicu keluhan fisik.
“Ketika mengingat kembali kejadian saat keracunan bersama teman-temannya, keluhan fisiknya bisa muncul lagi. Mulai dari pusing, sakit perut, bahkan ada yang mengalami kejang,” ujar Bobby.
Untuk memastikan kondisi korban tertangani secara menyeluruh, Pemprov Sumut telah mengerahkan sejumlah dokter spesialis, mulai dari dokter anak, saraf, hingga gastroenterologi.
Selain penanganan medis, tim juga melakukan pemeriksaan psikologis terhadap para pelajar.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya korban yang mengalami trauma setelah kejadian keracunan tersebut. Karena itu, penanganan kini tidak hanya diarahkan pada pemulihan fisik, tetapi juga terapi psikologis.
Bobby mengatakan, pendekatan tersebut diperlukan agar trauma yang dialami para korban tidak terus memicu gangguan fisik.
“Sekarang penanganannya tidak hanya secara fisik. Kondisi psikologis juga harus dipulihkan agar trauma tidak kembali memunculkan keluhan pada tubuh mereka,” jelasnya.
Bobby sebelumnya juga mendatangi sejumlah korban yang kembali menjalani perawatan di Rumah Sakit Efarina dan Rumah Sakit Amanda, Kabupaten Karo, Jumat malam (10/9/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Pemprov Sumut memastikan kondisi para korban terus dipantau oleh tim medis.
Sementara itu, salah satu pelajar dengan kondisi psikologis yang dinilai membutuhkan penanganan lebih lanjut akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit Haji Medan.
“Ada satu pasien yang kondisi psikologisnya cukup terganggu dan traumanya memicu kembali keluhan yang dialaminya. Karena itu, kami minta segera dirujuk ke Rumah Sakit Haji untuk mendapatkan penanganan lanjutan,” tegas Bobby.
Pemprov Sumut memastikan penanganan terhadap para korban akan dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah tidak hanya menargetkan kesembuhan secara fisik, tetapi juga pemulihan kondisi mental agar para pelajar dapat kembali bersekolah dan beraktivitas seperti biasa.
Pemulihan psikologis dinilai menjadi bagian penting untuk memastikan para korban benar-benar terbebas dari trauma akibat kejadian tersebut.










