TVRINews, Tapanuli Utara
Semangat kolaborasi dan pelestarian budaya dalam pagelaran Tona Sian Huta – Dari Danau Toba untuk Dunia tidak hanya tercermin melalui pertunjukan seni dan konser musik, tetapi juga melalui kehadiran puluhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menampilkan beragam produk unggulan khas kawasan Danau Toba yang digelar di Perkampungan Pemuda Jetun Silangit, Kecamatan Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, pada Sabtu, 11 Juli 2026.
Berbagai produk unggulan UMKM, kuliner tradisional, kopi, tenun ulos, kriya, fesyen, hingga berbagai produk ekonomi kreatif lainnya, seluruhnya hadir sebagai bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan lokal kepada para pengunjung, menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan, dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus meningkatkan daya tarik pariwisata nasional, khususnya di kawasan Danau Toba sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas, saat ini sebanyak 91 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia sedang berproses dengan Kementerian Dalam Negeri membentuk gabungan dinas ekonomi kreatif guna membuka ruang promosi bagi produk-produk kreatif dan UMKM lokal sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR RI, Lamhot Sinaga, mengatakan budaya merupakan salah satu kekuatan besar Indonesia. Ketika budaya dikelola dengan baik, dikemas secara kreatif, dan diperkenalkan kepada generasi muda, maka budaya dapat menjadi sumber inspirasi, kebanggaan, sekaligus sumber pertumbuhan ekonomi.
"Kami yakin kawasan Danau Toba dapat menjadikan ekonomi kreatif sebagai mesin baru pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Lamhot saat membuka langsung opera tersebut.
Tona Sian Huta adalah sebuah pagelaran budaya yang menghadirkan kembali suara kampung halaman melalui seni pertunjukan khas Batak. Acara ini memadukan pementasan Opera Batak yang sarat cerita dan nilai tradisi dengan konser musik Batak modern dan tradisional, menghadirkan pengalaman yang emosional, megah, dan autentik.
Diselenggarakan langsung di Tanah Batak, acara ini dirancang sebagai panggung pulang bagi diaspora Batak yang tersebar di berbagai kota di Indonesia hingga mancanegara. Melalui cerita, musik, dan suasana kampung halaman, Tona Sian Huta menjadi jembatan nostalgia yang menghubungkan perantau dengan akar budaya mereka.
Dalam rangkaian pembukaan Tona Sian Huta tersebut, Menteri Ekraf Teuku Riefky turut didampingi Plt. Deputi Pengembangan Strategis Ekraf, Agus Syarip Hidayat; Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Dadam Mahdar; Tenaga Ahli Menteri Bidang Keprotokolan, Panji Purboyo; serta Tenaga Ahli Menteri Bidang Isu Media dan Opini Publik, Hasbil Mustaqim Lubis. Turut hadir pula Staf Ahli Bidang Hukum dan Kebijakan Publik Kementerian UMKM, Reghi Perdana; Staf Ahli Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi Kementerian Pariwisata, Kurleni Ukar; Bupati Samosir, Vandiko Timotius Gultom; Ketua Umum Persatuan Artis Batak Indonesia (PARBI), Charlie Willy Hutasoit; Ketua Pelaksana Tona Sian Huta, Rudy Sham Sirait; dan ratusan penikmat seni pertunjukan dari berbagai daerah.
Lebih dari sekadar pertunjukan, Tona Sian Huta diharapkan menjadi magnet budaya yang mendorong para perantau Batak untuk kembali berkunjung ke Tanah Batak—membawa keluarga, sahabat, dan komunitas mereka. Dengan demikian, acara ini tidak hanya merayakan identitas budaya Batak, tetapi juga membuka peluang besar bagi pengembangan pariwisata budaya di Tanah Batak, menarik wisatawan dari dalam maupun luar negeri untuk merasakan langsung kekayaan tradisi Batak.
Melalui semangat kolaborasi dan pelestarian budaya, pagelaran Tona Sian Huta – Dari Danau Toba untuk Dunia diharapkan menjadi ikon budaya yang mampu mengangkat warisan leluhur Batak ke panggung nasional hingga internasional, sekaligus memperkuat posisi Danau Toba sebagai destinasi wisata budaya kelas dunia.










