TVRINews, Sumatera Utara
Pergerakan pasar keuangan pada perdagangan hari ini kembali dibayangi sentimen global, terutama meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Setelah sebelumnya pelaku pasar mencermati sejumlah data ekonomi domestik, perhatian kini beralih pada perkembangan hubungan antara Iran dan Amerika Serikat yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar global.
Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, mengatakan pasar masih mencermati dinamika antara Iran dan Amerika Serikat, terutama setelah muncul laporan bahwa Iran diduga memasang ranjau di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.
“Pelaku pasar masih menunggu perkembangan hubungan Iran dan Amerika Serikat. Ketidakpastian negosiasi antara kedua negara kembali mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia,” ujar Gunawan, Rabu (3/6/2026).
Harga minyak mentah dunia jenis West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan pagi tercatat naik ke level US$96,7 per barel. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik yang dapat mengganggu pasokan energi global.
Menurut Gunawan, sentimen tersebut turut memengaruhi pergerakan pasar keuangan domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka menguat di level 6.207, namun kemudian berbalik melemah dan bergerak di kisaran level support 6.070.
Di pasar valuta asing, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan dan ditransaksikan di kisaran Rp17.900 per dolar Amerika Serikat. Pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan respons pasar terhadap sejumlah data ekonomi domestik yang dinilai belum cukup kuat menopang optimisme investor.
“Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah surplus neraca perdagangan Indonesia yang mengalami penyusutan dibandingkan periode sebelumnya,” jelasnya.
Dari pasar komoditas, harga emas dunia turut mengalami koreksi dan diperdagangkan di kisaran US$4.478 per troy ons, atau setara sekitar Rp2,59 juta per gram.
Gunawan menambahkan, tekanan terhadap harga emas dipicu oleh membaiknya data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang meningkatkan ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral AS (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam waktu dekat.
“Data tenaga kerja AS yang lebih baik dari perkiraan memunculkan spekulasi bahwa The Fed belum akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat. Kondisi ini sementara waktu menjadi sentimen negatif bagi harga emas,” katanya.
Pelaku pasar kini masih menunggu perkembangan lebih lanjut terkait kebijakan moneter Amerika Serikat serta situasi geopolitik global yang diperkirakan akan terus memengaruhi pergerakan nilai tukar, pasar saham, dan harga komoditas dalam beberapa waktu ke depan.










