TVRINews, Sumatera Utara
Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia, Moh. Jumhur Hidayat, mencanangkan Wakaf Hijau dan Gerakan Tobat Ekologis Nasional di Fakultas Pertanian Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Jalan Karya Wisata, Medan Johor, Sabtu, 5 September 2026.
Kegiatan yang diinisiasi Pengurus Yayasan Wakaf UISU tersebut dirangkaikan dengan Seminar Nasional bertema “Ekosistem Syariah: Inisiasi Wakaf Hijau dan Pengembangan Ekosistem Halal Sumatera Utara Menuju Indonesia Emas 2045.”
Dalam kunjungannya, Menteri Lingkungan Hidup secara simbolis menanam pohon sekaligus meresmikan Laboratorium Agroforestri Fakultas Pertanian UISU sebagai proyek percontohan (pilot project) Wakaf Hijau UISU dan Gerakan Tobat Ekologis Nasional.
Turut mendampingi Ketua Umum Pengurus Yayasan Wakaf UISU Indra Gunawan, Rektor UISU Prof. Dr. Safrida, Ketua Umum APTISI M. Budi Djatmiko, serta sejumlah tamu undangan.
Dalam sambutannya, Moh. Jumhur Hidayat menjelaskan bahwa Gerakan Tobat Ekologis Nasional merupakan ajakan bersama untuk meningkatkan kepedulian terhadap penyelamatan lingkungan yang kondisinya semakin memprihatinkan.
Menurutnya, tobat ekologis adalah bentuk pengakuan bahwa manusia pernah melakukan kesalahan dalam mengelola alam, sehingga diperlukan perubahan perilaku secara kolektif.
“Tobat ekologis nasional adalah bentuk pengakuan bahwa kita pernah salah dalam mengelola lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, salah satu fokus utama pemerintah adalah pembenahan pengelolaan sampah melalui regulasi yang lebih kuat, mengingat volume sampah terus meningkat setiap hari.
Menteri juga menegaskan bahwa pemerintah tidak melarang dunia usaha memperoleh keuntungan, namun aktivitas ekonomi tidak boleh merugikan masyarakat maupun lingkungan.
“Pemerintah tidak melarang korporasi mengambil manfaat dan keuntungan, tapi jangan sampai mencelakakan orang lain,” tegasnya.
Ketua panitia, Dani Sintara, mengatakan kehadiran Menteri Lingkungan Hidup menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman mengenai tobat ekologis melalui kolaborasi lintas sektor.
Seminar nasional menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Sekretaris Jenderal MUI Amirsyah Tambunan, Kepala Badan Pelaksana BPKH Fadlul Imansyah, Direktur Utama Perhutani Tio Handoko, Koordinator LLDIKTI Wilayah I Sumut Saiful Anwar Matondang, Direktur Infrastruktur Ekosistem Syariah KNEKS Sutan Emir Hidayat, Ketua Umum APTISI M. Budi Djatmiko, Ketua Umum APPERTI Mansyur Ramly, serta Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Sumatera Utara Heri W. Marpaung.
Sementara itu, Sekretaris Umum Yayasan Wakaf UISU M. Idris berharap kolaborasi tersebut tidak hanya berfokus pada pelestarian lingkungan, tetapi juga memperkuat peran perguruan tinggi dalam mewujudkan program Kampus Berdampak melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
“Yayasan Wakaf UISU yang juga bagian dari APPERTI dan APTISI mengajak badan penyelenggara PTS serta perguruan tinggi swasta di Sumatera Utara untuk terlibat langsung dalam pelestarian lingkungan menuju Sustainable Development Goals (SDGs),” katanya.
Dalam kesempatan itu, Menteri Lingkungan Hidup juga meninjau berbagai produk inovasi mahasiswa UISU, di antaranya kompos limbah ternak sapi, pupuk organik, eco enzyme, briket limbah sekam padi, deterjen cair, sabun cuci piring, hingga kaldu bubuk berbahan kulit udang.
Kegiatan ditutup dengan penandatanganan nota kesepahaman antara perguruan tinggi dan civitas akademika di Sumatera Utara sebagai bentuk komitmen bersama dalam mendukung upaya penyelamatan lingkungan di Indonesia.










