TVRINews, Medan
Persaingan menuju Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII NTT-NTB 2028 mulai dipanaskan dari sekarang. Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sumatera Utara (Sumut) menggelar tes fisik terhadap para atlet yang tergabung dalam Program Pembinaan Intensif (PPI), Sabtu, 26 September 2026.
Tes yang berlangsung di lingkungan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) Universitas Negeri Medan (Unimed) tersebut menjadi bagian dari persiapan panjang KONI Sumut untuk membentuk skuad terbaik menghadapi PON 2028.
Tak sekadar mengukur kemampuan fisik, hasil tes nantinya menjadi salah satu tolok ukur dalam menentukan promosi dan degradasi atlet. Artinya, posisi atlet dalam program pembinaan tidak otomatis aman. Performa harus terus dijaga dan ditingkatkan hingga mendekati pelaksanaan PON.
Ketua Umum KONI Sumut, Hatunggal Siregar, mengatakan tes fisik merupakan salah satu tahapan dalam Program Pembinaan Intensif. Menurutnya, selain PPI, KONI Sumut juga memiliki sejumlah program lain untuk menjaring atlet potensial yang dapat dipersiapkan menuju level yang lebih tinggi.
"Kami sedang melaksanakan empat program pertama PPI ini dan ada tiga program lagi, Selekprov, Kejurprov, dan Porprov. Itu semua menjaring atlet-atlet Sumatera Utara untuk tingkat yang lebih tinggi," kata Hatunggal.
Hatunggal menegaskan, atlet yang saat ini sudah masuk PPI tetap harus bekerja keras. Sebab, mereka akan bersaing dengan atlet lain yang memiliki peluang untuk masuk ke dalam program pembinaan. Persaingan tersebut, kata dia, harus berlangsung secara sehat, baik dari sisi teknik maupun kondisi fisik.
"Kita berharap mereka bisa bersaing secara sehat, baik dari teknik maupun fisik. Karena mereka yang bertanding ini juga akan mewakili Sumatera Utara. Jadi hari ini kita lakukan tes fisik," ujarnya.
KONI Sumut Tegaskan Seleksi Berbasis Prestasi
Selain menyiapkan fisik atlet, KONI Sumut juga menegaskan proses pembinaan dan seleksi dilakukan berdasarkan prestasi.
Hatunggal memastikan tidak ada kepentingan pribadi dalam menentukan atlet yang masuk maupun bertahan di dalam program pembinaan.
"Tidak ada kepentingan saya sebagai ketua KONI untuk meloloskan satu atlet pun. KKN murni karena prestasi," tegasnya.
Sementara itu, Ketua PPI Sumut, Indra Kasih, mengungkapkan saat ini terdapat 284 atlet dari 26 cabang olahraga yang mengikuti program tersebut. Para atlet tersebut telah menjalani pembinaan sejak 2025 dan akan terus dipantau hingga 2028.
"Atlet PPI kita ini ada berjumlah 284 orang dari 26 cabang olahraga. Atlet kita sudah mengikuti PPI sejak tahun 2025 hingga 2026 dan nanti akan lanjut hingga 2028," kata Indra.
Menurut Indra, tes fisik menjadi bagian penting dalam sistem evaluasi atlet. Hasilnya akan digunakan sebagai salah satu dasar untuk menentukan promosi dan degradasi. Tes juga dilakukan dengan standar tertentu yang mengacu pada ketentuan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
"Promosi degradasi itu ada. Ini menjadi salah satu upaya kita untuk memberikan penguatan fisik. Tes fisik tentu ada standarisasi. Standarisasi itu kita mengarah ke Permen Kemenpora Nomor 15," ujarnya.
Tes Fisik Tak Bisa Disamaratakan
Untuk memastikan pengukuran berjalan objektif, KONI Sumut menggandeng FIK Unimed.
Dekan FIK Unimed, Imran Akhmad, mengatakan tes yang dilakukan tidak hanya bertujuan menghasilkan deretan angka. Lebih dari itu, data tersebut harus mampu menggambarkan perkembangan kemampuan atlet selama menjalani proses latihan.
"Tes ini kita tidak hanya mendapatkan angka-angka. Kita ingin mendapatkan makna dari angka itu. Kita merancang agar di kondisi Sumut ini semua kemajuan atlet terukur," kata Imran.
Imran menjelaskan terdapat dua jenis tes yang digunakan, yakni tes formatif dan tes sumatif.
Tes formatif digunakan untuk melihat perkembangan hasil latihan, sedangkan tes sumatif bertujuan mengukur kinerja atlet. Hasil pengukuran tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi untuk menentukan keberlanjutan atlet di dalam program.
"Bagi atlet yang tidak memenuhi standar, dengan sendirinya akan terdegradasi. Jadi kita tidak melakukan degradasi, tetapi terdegradasi," ujarnya.
Menariknya, standar tes fisik juga tidak disamakan untuk seluruh cabang olahraga. Setiap cabor memiliki karakteristik dan tuntutan fisik yang berbeda. Karena itu, indikator pengukuran disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing cabang.
Imran mencontohkan perbedaan standar antara esports dan cabang olahraga beladiri. Untuk esports, standar VO2max yang digunakan berada pada bleep level 8, sedangkan cabang olahraga beladiri berada pada level 16.
"Setiap cabang olahraga berbeda tesnya. Salah satu contohnya cabang olahraga esports dengan cabang olahraga beladiri. Untuk esports, VO2max-nya standar bleep level 8, sedangkan untuk beladiri level 16," jelasnya.
Dengan sistem tersebut, KONI Sumut dan FIK Unimed ingin memastikan kondisi fisik atlet dapat dipantau secara terukur sesuai karakteristik masing-masing cabang olahraga.
Tes ini sekaligus menjadi bagian dari perjalanan panjang menuju PON XXII NTT-NTB 2028.
Bagi 284 atlet PPI Sumut, perjuangan menuju panggung PON bukan hanya soal prestasi hari ini. Performa, kondisi fisik, dan konsistensi hingga 2028 akan menjadi bagian dari proses untuk memperebutkan tempat sebagai wakil Sumatera Utara.










